BERSIH DIRI JADI INSAN SEJATI

BERSIH DIRI JADI INSAN SEJATI

Rabu, 11 Desember 2013

puisi islami

Pencarian Diri
Karya : masriah

Hingga sampai saat ini hati ini belum bisa mengenali diri ini ,,
Berjalan , melangkah mengikuti arus , berlari mencoba menghilangkan kejenuhan. Namun ternyata semua itu tak memperbaiki keadaan. Mengapa aku harus lari dari kenyataan, apa karena aku takut ataukah karena kuterlalu mengutamakan egoku,,,???
Tak pernah terbesit dalam hati ini untuk lari, namun tak kuasa ku menahannya, semakin lama semakin sakit, penat hati ini merasakan perdebatan antara hati, pikiran dan nafsu.
Ya Robbi,,,,, engkau yang tahu akan semua rahasia ini, engkau yang mengatur semua takdir kita, namun bolehkah hambaMu ini memohon kemudahan dan keberuntunga serta kebaikan dunia akhirat???   


Jalalu Al-Din Al-Rumi : Kerendahan hati
KERENDAHAN HATI 
ADALAH GURU PARA GURU

Kerendahan-hatian bisa melampaui segala pendakian
tahap demi tahap!
ia adalah pintu yang tak terkunci
karena semua telah diserahkan kepadanya!

adalah kotor, dia yang memeperturutkan kedirian
dan sucilah ia yang mengikuti akal.
sedangkan kerendah-hatian berarti
mendirika tenda di sisi lain dari keduanya

Hati-hati pecinta Tuhan
telah membentuk lingkaran kerendah-hatian
maka kerendah-hatian adalah guru dari para guru
di mana semua hati adalah muridnya

(9326-9328)

Sumber:
Jalalu al-Din al-Rumi, Kisah Keajaiban Cinta, penejemah Anik, Yogyakarta: Kreasi Wacana, hlm. 2

  
Memahami Makna
Jalal al-Din al-Rumi


Seperti bentuk dalam sebuah cermin,
kuikuti wajah itu.
Tuhan menampakkan dan menyembunyikan sifat-sifat-Nya.
Tatkala Tuhan tertawa, maka aku pun tertawa.
dan
Manakala Tuhan gelisah, 
menjadi gelisahlah aku

Maka katakan tentang Dirimu, ya Tuhan.
Agar segala makna terpahami,
sebab mutiara-mutiara makna yang telah kurentangkan di atas kalung pembicaraan
adalah berasal dari Lautan-Mu

(1454-1456)

  • Sumber: Jalal al-Din al-Rumi, KIsah Keajaiiban Cinta, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2001, penerjemah Anik, hlm. 15
·         Sadarlah Akan Diri Sendiri
·          Jalal al-Din al-Rumi
·          
·          
·         Duhai Sana'i! 
·         Jika Kau tak menemukan seorang kawan, 
·         maka jadilah kawan bagi diri sendiri!
·          
·         Di Dunia ini, 
·         setiap orang memiliki kewajiban masing-masing!
·         Penuhilah kewajibanmu sendiri!
·          
·         Setiap kafilah memiliki barangnya sendiri, 
·         letakkanlah dirimu di dekat barangmu sendiri!
·          
·         Orang-orang menjual keindahan 
·         sesaat dan membeli cinta sesaat
·         itu hanyalah dua ranjang sungai yang kering. 
·         Tinggalkan ia dan jadilah sungai!
·          
·         Keindahan-keindahan ini terlukis di atas kain
·         yang menyelubungi segala keindahan hati.
·         Angkat selubung dan masuklah
·         maka jadilah kekasih bagi dirimu sendiri!
·          
·         jadilah kekasih bagi dirimu sendiri 
·         yang senantiasa berhusnu dzan, duhai manusia yang baik!
·         lampauilah dua dunia!
·         dan Tinggallah di kediaman sendiri!
·         Pergi! jangan mabuk dengan anggur 
·         dan kecongkakan-kecongkakan itu!
·         Lihatlah kilauan wajah itu!
·         dan sadarlah akan Dirimu sendiri!
·          
·        
Sumber: Jalal al-Din al-Rumi, Kisah Keajaiban Cinta,  Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2001, hlm 14; penerjemah Anik.


Tuhan Adalah "Cahaya"
Jalal al-Din al-Rumi


Kita adalah kegelapan dalam rumah
dan Tuhan adalah Cahaya.

Rumah itu menerima cahaya dari
Matahari
yang dalam perjalanannya akan bercampur 
dengan bayang-bayang
 

Maka jika engkau menginginkan cahaya,
bersegeralah keluar dari rumah
dan naiklah ke atas atap

(30842-30843)
  • Sumber: Jalal al-Din al-Rumi, Kisah Keajaiban Cinta,  Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2001, hlm 25; penerjemah Anik.

Tuhan Hadir dalam setiap Gerak
Jalal al-Din al-Rumi

Tuhan berada di mana-mana
Ia hadir dalam setiap gerak

Namun Tuhan tidak dapat ditunjuk
dengan ini dan itu
Sebab wajah-Nya terpantul
dalam keseluruhan ruang
sekalipun pada hakikatnya
Tuhan itu mengatasi ruang
  • Sumber: Jalal al-Din al-Rumi, Kisah Keajaiban Cinta,  Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2001, hlm 26; penerjemah Anik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar